Walikota Li Cheng tersadar dan segera bergegas mengejar Lynx, diikuti oleh kakak-kakak seperguruan Li Wei. Namun, begitu mereka keluar dari kediaman, sosok pemuda itu sudah lenyap.

Mereka saling bertukar pandang, lalu mengerahkan qi untuk mencari keberadaannya.

"Kenapa aku tidak bisa merasakan posisinya?" salah satu kakak seperguruan Li Wei bergumam dengan alis berkerut.

"Aku juga tidak bisa," yang lain ikut bersuara, matanya dipenuhi keheranan.

"Hmph, kalau dia memang ingin mencari mati, biarkan saja!" kata salah satu dari mereka dengan nada dingin. "Tapi kita juga tidak bisa hanya berdiam diri. Kita harus bergerak sekarang. Ibu dan kakak Li Wei tidak boleh sampai terluka lebih jauh!"

Di tengah perdebatan, seseorang tiba-tiba tersadar. "Tunggu… mana Ling Mei?"

Semua mata saling berpandangan sebelum mereka segera kembali ke dalam rumah. Di sana, mereka menemukan Ling Mei berdiri diam dengan wajah pucat, sementara Li Wei dan Jelita berada di dekatnya.

"Apa yang terjadi pada Ling Mei?" salah satu dari mereka bertanya dengan nada khawatir.

Li Wei dan Jelita menggeleng bersamaan.

"Kami tidak tahu," suara Li Wei terdengar panik. "Tiba-tiba saja Kak Ling Mei terdiam, lalu wajahnya menjadi pucat. Tolong periksa apakah terjadi sesuatu padanya!"

Salah seorang rekan seperguruan mendekat dan menyentuh pergelangan tangan Ling Mei, namun begitu disentuh—

Ling Mei tersentak, seolah baru kembali dari alam mimpi. "Ah… maaf. Aku hanya… melamun," katanya pelan.

"Apa yang terjadi, Ling Mei? Apakah kau sakit?" rekan seperguruannya bertanya dengan cemas.

Ling Mei menggeleng perlahan, matanya masih sedikit kosong. "Aku… tidak apa-apa." Ia menghela napas dalam. "Hanya saja, saat melihat sikap pemuda tadi… rasanya sangat tidak asing. Aku merasa pernah mengalami hal ini sebelumnya, tapi aku tidak bisa mengingat di mana dan kapan."

Didalam hatinya Ling Mei membatin, "sejak pertama kali bertemu dengannya, perasaanku sangat tidak nyaman. Aku merasa ada sesuatu yang tidak kumengerti sehingga membuatku selalu ingin marah setiap bersamanya."

Jelita yang mendengarnya merasakan jantungnya hampir melompat dari dadanya. "Leena… benar, dia pasti Leena! pikirnya. Aku harus memberi tahu Xiao Ling soal ini. Pasti sudah terjadi sesuatu yang besar di balik semua ini sehingga dia melupakan kami."

"Ling Mei," Jelita akhirnya bersuara, nadanya penuh selidik. "Apakah kau benar-benar tidak mengingat apa pun?"

Namun, tatapan dingin Ling Mei kembali. Seolah tak ingin membahas lebih jauh, ia segera mengalihkan pembicaraan. "Kita fokus pada masalah yang ada. Ke mana pemuda sembrono tadi?"

"Dia sudah menghilang. Kami tidak bisa menemukan jejaknya," salah satu dari mereka melaporkan.

Tiba-tiba, suara Li Wei memecah suasana. "Ayah… ke mana Ayahku?"

Semua orang tersentak. Mereka baru menyadari bahwa Walikota Li Cheng juga tidak ada di antara mereka.

Ling Mei langsung mengerahkan qi-nya, menyebarkan kesadarannya ke segala arah. Dalam sekejap, ia merasakan sebuah energi—

"Dia ada di sana." Mata Ling Mei menyipit. "Seseorang dengan ranah Master Foundation Perunggu Tingkat Akhir sedang bergerak cepat menuju arah yang di tuju para penculik."

Wajah Li Wei berubah pucat. "Ayah…"

Tanpa ragu, Ling Mei melangkah maju, auranya mendadak menekan. "Aku akan menyusulnya."

Sebelum siapa pun bisa bereaksi, tubuhnya melesat, menghilang dalam bayang-bayang sore, meninggalkan yang lain dalam kebingungan dan kecemasan.

***

Sore itu, matahari condong ke barat, menyelimuti langit dengan warna merah darah. Di dalam gua tersembunyi, cahaya redup dari api unggun menari di wajah tiga pria berjubah hitam yang tengah duduk dengan ekspresi tegang.

Di sudut gua, istri Walikota terduduk diam, wajahnya penuh kelelahan, tapi sorot matanya tetap menyala dengan keteguhan. Di sampingnya, Li Mei, putri sulung Walikota, masih terkulai tanpa daya, napasnya lemah akibat racun yang telah membuatnya tertidur selama setahun lebih.

Luo Zhen, pria yang duduk di tengah, menatap api unggun dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal, menahan amarah yang mendidih di dalam dadanya.

“Bangsat!” suaranya menggema di dalam gua. “Artefak itu seharusnya sudah di tangan kita, dan kita bisa segera kembali ke sekte menerima hadiah!”

Dua pria yang duduk di seberangnya, saling bertukar pandang sebelum salah satunya berbicara dengan hati-hati. “Tenang, Luo Zhen. Hanya Masalah waktu, artefak itu pasti akan kita dapatkan. Jangan lupa, fragment lainnya sebagian sudah ada di kita, jadi aku yakin, fragment lainnya yang ada di artefak itu pasti akan menjadi milik kita juga. Selain itu tidak ada yang dapat menggunakannya selain sekte kita.”

Luo Zhen melirik tajam. “Tidak ada seorang pun? Kalau begitu, bagaimana kau menjelaskan seseorang mendapatkannya lebih dahulu daripada kita?! Huo Zhen sudah lama menyelidiki mereka, tetapi bahkan dia tidak tahu ada ruang rahasia di tempat itu! Namun pencuri itu bisa mengetahuinya, menandakan dia sudah lama menyelidiki kediaman Walikota! Kita harus menyelidiki, apa tujuan orang ini sebenarnya."

Rekan mereka yang lain menghela napas. “Aku masih tidak percaya ada orang yang bisa menyelinap ke dalam rumah itu tanpa kita sadari dan dia bisa datang tepat disaat kita sedang berusaha mendapatkannya juga.”

Luo Zhen menggeram. “Jika bukan orang rumah Walikota, maka ada pihak lain yang ikut campur dalam urusan ini. Mereka bahkan menggunakan kesempatan mencurinya tepat pada saat kita akan ”

Pria di sebelahnya mengangkat bahu. “Bukankah Huo Zhen mengatakan dia mengetahui siapa yang mengambilnya. Saat ini mungkin dia sedang mencarinya. Dia bilang bisa menebak siapa pencurinya. Kita tunggu saja.”

Luo Zhen mendengus kesal. “Hmph. Jika tebakan dia salah, aku sendiri yang akan menghabisinya.”

Sunyi.

Hanya suara kayu yang berderak di dalam api unggun. Lalu, salah satu dari mereka menoleh ke sudut gua, memperhatikan istri Walikota dengan tatapan penuh makna.

“Apa yang akan kita lakukan dengan mereka?” tanyanya dengan nada licik.

"Awalnya aku ingin menggunakan mereka sebagai Sandera untuk memaksa walikota mengeluarkan artefak tersebut, terapi ternyata rencana kira gagal total karena ada yang mendahului. Jadi sekarang terserah kepada kalian, ingin apakan kedua wanita itu." Kata Luo Zhen dengan nada kecewa.

“Jika memang kamu tidak permasalahkan, sambil menunggu informasi darinya, bagaimana jika kita  menikmati sesuatu yang sudah ada di sini terlebih dahulu?” kata pria lainnya sambil memberi tanda ke arah istri walikota.

Pria lain tertawa rendah. “Istri Walikota ini benar-benar luar biasa. Meski tidak lagi muda, tapi pesonanya masih seperti gadis belia.”

Luo Zhen melirik sekilas, lalu mendengus dingin. “Hmph. Lakukan sesukamu. Aku tidak peduli. Tapi jangan buang waktu terlalu lama. Selain itu, wanita muda itu, anak mereka, berikan untukku"

Dua pria itu menoleh ke arah istri Walikota, lalu mulai melangkah mendekat.

Tapi—

PLAK!

Tamparan keras mendarat di wajah pria pertama, membuatnya terhuyung mundur.

Istri Walikota menatap mereka dengan sorot mata penuh kebencian.

“Bunuh aku sekarang juga!” suaranya menggema di dalam gua. “Aku lebih baik mati daripada harus dinodai oleh binatang seperti kalian!”

Pria yang ditampar menyeringai marah. “Kau berani menolak? Jangan lupa, suamimu pasti sudah mati! Putrimu juga sekarang tergantung kepada sikapmu! kami akan membunuhnya jika kamu tidak melayani kami dengan baik.”

Tapi istri Walikota justru menegakkan punggungnya dengan penuh kebanggaan. “Lebih baik kalian bunuh kami berdua. Kami lebih memilih mati dalam kehormatan daripada hidup dalam kehinaan!”

"Tidak secepat itu. Aku akan memenuhi keinginanmu, tapi setelah puas menikmati tubuhmu lalu anakmu yang cantik." kata seorang pria yang menggendong istri walikota sebelumnya sambil memegangi tubuh istri walikota.

Tepat saat pria itu hendak mengangkat tubuh istri walikota dengan paksa, tiba-tiba—

Pria tersebut terdiam dan tidak lama pria itu terjatuh tepat disamping pria satunya tanpa menyadari apa yang telah terjadi kepadanya.

Angin dingin tiba-tiba berhembus kedalam gua.

Suhu udara turun drastis, hawa membunuh menyelimuti tempat itu. Api unggun berkedip-kedip seolah ketakutan, lalu tiba-tiba padam.

Dari ambang pintu gua, seseorang berdiri di bawah cahaya merah matahari senja. Dipenuhi niat membunuh.

Lynx telah tiba.

